<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
					xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
					xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
				  >
<channel>
<title>&quot;Motivasi Hidup&quot;</title>
<link>http://http://kaito-kit.mywapblog.com/</link>
<description><![CDATA['Satu mil itu jauh, tapi bila kita terus melangkah. Satu mil hanya satu langkah berikutnya, lagi, & lagi.." (Very)]]></description>
<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 03:05:00 +0000</pubDate>
<item>
<title>Sepercik Pagi</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/sepercik-pagi.xhtml</link>
<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 03:05:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/embun-pagi.jpg" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Karena hidup selalu menawarkan kegembiraan dan kesedihan setiap harinya, maka cobalah memilih kegembiraan dalam memulai aktivitas harimu. Itu akan berguna untuk membangun keseluruhan hari ini yang mungkin saja akan silih berganti moodnya, ujiannya, tantangannya dan termasuk godaan dan medan-medan terberatnya.<br />
<br />
<br />
Kita tidak tahu akan seperti apa ujung dari hari ini, atau jangan-jangan tak sampai di ujungnya kita sudah harus &#039;menghadap&#039; kepada Sang Pemberi Hidup yang memiliki kekuasaan tak terbatas itu, karenanya memulai dengan doa dan kebaikan-kebaikan kecil itu juga sangat baik sekali untuk menambah rasa optimis dan lapangnya hati kita. Dengan kebaikan-kebaikan yang tulus itu, hati kita juga lebih mudah bergembira, lebih mudah berempati dan tentu saja akan menimbulkan efek beruntun berupa aura kebaikan yang akan timbul dari lingkungan sekitar kita. Dan tahukah anda? aura semacam itu mahal sekali harganya.<br />
<br />
<br />
Ada orang yang sengaja melakukan perubahan tata letak ruangan secara periodik setiap beberapa bulan sekali, agar mood kebaikan dan aura positif lebih mudah datang dalam pikiran dan perasaan sang empunya, padahal kita bisa mendapatkan hal itu setiap hari andai kita mau berbagi kebaikan-kebaikan kecil kepada orang-orang di sekitar kita di awal hari. Padahal kreatifitas itu akan mudah muncul pada kondisi batin yang riang dan terbuka daripada mudah suntuk dan selalu berprasangka buruk.<br />
<br />
<br />
Betapa penting permulaan itu sebelum kita menyambut langkah-langkah berikutnya. Sebagaimana pentingnya setiap perencanaan dalam semua kerangka aksi organisasi sekecil atau bahkan sebesar apapun.<br />
<br />
<br />
Betapa berartinya senyum tulus dari orang-orang sekitar kita untuk membangun hari kita menjadi jauh lebih baik. Sebelum kita terlalu banyak berharap dari orang lain membangun kondisi itu, tentu akan lebih mudah bila kita sendiri yang memulainya dengan menarik 2 sudut bibir kita dengan senyum yang tulus kepada orang-orang terdekat dan ucapkan salam hangat dan sesuatu yang baik yang membuat mereka bahagia.<br />
<br />
<br />
Percayalah bukan hanya mereka yang akan senang dengan sambutan pagi anda, akan tetapi anda sendiri juga akan jauh lebih berbahagia karena sudah memberi dengan tulus, tanpa perlu dibuat-buat dan berlebihan seperti bergosip atau membicarakan hal tak penting lainnya mengenai orang lain.<br />
<br />
<br />
Bukankah kita semua akan menuai apapun yang kita tanam?]]></description>
</item>
<item>
<title>Berkorban Itu Indah</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/berkorban-itu-indah.xhtml</link>
<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 04:34:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/ulat-daun.gif" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Tlah 2 musim hujan berlalu sehingga di mana-mana tampak pepohonan menghijau. Keliatan seekor ulat di antara dedaunan yg menghijau bergoyang-goyang di terpa angin. &#039;&#039;Apa kabar daun hijau&#039;&#039; katanya .....<br />
Tersentak daun hijau menoleh kearah suara yg datang. &#039;&#039;Ohh...kamu ulat , badanmu keliatan kurus dan kecil...mengapa ?&#039;&#039; tanya daun hijau. &#039;&#039;Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku , bolehkan engkau membantuku sahabat ? &#039;&#039; kata ulat kecil. &#039;&#039;Tentu....tentu, dekatlah kemari ,&#039;daun hijau berpikir &#039; Jika aku memberikan sedikit saja daunku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau . Hanya saja aku akan keliatan berlobang-lobang...tapi tak apalah .&#039;&#039;<br />
<br />
Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju ke daun hijau. Setelah makan dengan kenyang ulat berterima kasih kepada daun hijau yg telah merelakan sebagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yg penuh kasih dan pengorbanan itu , ada rasa puas di dalam diri daun hijau . Sekali pun tubuhnya kini berlobang di sana sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yg lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna . Akhirnya ia jatuh ketanah di sapu orang dan dibakar .<br />
<br />
Renungan......<br />
Apa yg berarti di kehidupan kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama ? Nahh......akhirnya semua yg ada akan mati bagi sesamanya yg tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak melupakan kepentingan diri sendiri .<br />
<br />
Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi orang lain memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri mnjadi seperti daun hijau yg berlobang namun sebenarnya itu tidak mempengaruhi kehidupan kita, kita akan tetap hijau ...Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita .]]></description>
</item>
<item>
<title>Menulis Kehidupan</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/menulis-kehidupan.xhtml</link>
<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 04:34:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[&#039;Aku tidak minta berjalan di jalan setapak yang mulus, atau memikul beban yang ringan. Aku berdoa minta kekuatan dan ketabahan untuk mendaki jalan yang bertaburan batu karang. Berilah aku keberanian sehingga aku bisa memanjant ke puncak yang paling sulit sendirian, dan mengubah setiap balok sandungan menjadi batu pijakan...&#039;]]></description>
</item>
<item>
<title>Mengapa Wanita Menangis?</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/175.xhtml</link>
<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 08:14:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/sktmp6foumxt226929-373785.jpg" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> “Kenapa ibu menangis?” Tanya seorang anak kepada ibunya.<br />
“Karena aku seorang wanita,” jawabnya.<br />
“Aku tidak mengerti,” katanya. Ibunya memeluknya dan berkata,”Kamu tidak akan pernah tahu, tapi itu tidak jadi masalah.”<br />
Tak lama kemudian anak itu bertanya pada ayahnya, “Mengapa ibu menangis tanpa alasan yang jelas?”<br />
“Semua wanita menangis tanpa alasan,” hanya jawaban seperti itulah yang dapat diberikannya.<br />
Anak kecil itu tumbuh menjadi seorang pria, masih tetap bertanya-tanya mengapa wanita menangis. Akhirnya dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa wanita mudah menangis?”<br />
Tuhan menjawab…..<br />
Ketika Aku menciptakan wanita, aku putuskan dia harus istimewa. Aku membuat pundaknya cukup kuat untuk memikul beban kehidupan; namun aku membuat lengannya cukup lembut untuk memberikan kenyamanan…..<br />
Aku berikan kekuatan batin untuk menanggung persalinan serta penolakan yang sering kali dialaminya, bahkan dari anak-anaknya sendiri…..<br />
Kuberikan padanya ketangguhan sehingga memungkinkannya merawat keluarga dan teman-temannya, bahkan ketika semua orang menyerah karena penyakit dan kelelahan, dia tidak mengeluh…..<br />
Kuberikan kepekaan padanya untuk mencintai anak-anaknya dalam keadaan apapun. Bahkan ketika anak-anaknya sangat mengecewakannya… ..<br />
Dia memiliki kekuatan istimewa yang menenangkan tangis anaknya serta mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran anak remajanya…..<br />
Kuberikan kekuatan untuk merawat suaminya, walau dia melakukan kesalahan. Dan Aku menciptakannya dari rusuk laki-laki untuk melindungi hati suaminya…..<br />
Kuberikan kearifan agar mengetahui bahwa seorang suami yang baik tak kan pernah menyakiti isterinya, tapi kadang-kadang menguji ketegaran serta ketabahan isterinya untuk terus mendampingi suaminya tanpa ragu…..<br />
Untuk semua kerja kerasnya ini, Aku juga memberi dia air mata untuk dicucurkannya. Ini adalah yang dibutuhkannya untuk meringankan bebannya, dan ini adalah satu-satunya kelemahannya… ..<br />
Ketika kamu melihatnya menangis, katakan padanya betapa kamu mencintainya, dan menghargai semua yang telah dilakukannya bagi banyak orang, dan walaupun mungkin dia masih tetap menangis, tapi sesungguhnya kamu telah membuat hatinya terhibur…..<br />
Dia sungguh istimewa]]></description>
</item>
<item>
<title>The Power of &quot;Ojo Dumeh&quot;</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/173.xhtml</link>
<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 11:11:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/punakawan.jpg" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Di antara filosofi hidup orang jawa yang paling terkenal mungkin adalah &quot;ojo<br />
dumeh&quot;. Bahkan filosofi ini sudah mulai digunakan oleh kalangan yang lebih<br />
luas, tidak terbatas pada orang jawa saja. Ojo dumeh yang dalam bahasa<br />
sekarang mungkin bisa diterjemahkan langsung sebagai &quot;jangan<br />
mentang-mentang&quot; ini dianggap filosofi yang aplikatif sepanjang masa dan<br />
sangat powerful.<br />
<br />
Ajaran ojo dumeh menyarankan kepada kita agar jangan sampai kelebihan<br />
ataupun kehebatan yang kita miliki justru menjadi bumerang, membunuh diri<br />
sendiri. Kelebihan seseorang bisa dalam bentuk kekayaan, keahlian, jabatan,<br />
ketampanan atau kecantikan, kepopuleran, ataupun keturunan.<br />
<br />
Dalam hal kekayaan misalnya, jangan mentang-mentang kaya kemudian tidak<br />
menghargai yang miskin, apalagi melecehkan ataupun menghina. Ojo dumeh!<br />
Kekayaan yang kita miliki tidak bisa dijamin akan abadi. Bisa saja hari ini<br />
kita kaya tetapi malam nanti kekayaan kita dirampok orang dan ludes semua<br />
kekayaan kita. Kalau hal seperti itu terjadi, mau apa? Ini adalah refleksi<br />
dari realita kehidupan di mana ada kaya ada miskin, ada yang pintar ada yang<br />
bodoh, dan sebagainya. Yang kaya bisa saja menjadi miskin dan yang miskin<br />
bisa saja menjadi kaya.<br />
<br />
Untuk itulah maka kearifan jawa ini selalu mengingatkan kita untuk ojo<br />
dumeh. Jangan mentang-mentang memiliki kelebihan kemudian menjadi sombong,<br />
tidak terkendali, lupa diri, bahkan kemudian merendahkan orang lain.<br />
Kearifan untuk ojo dumeh inilah yang mengantar banyak orang menjadi sukses.<br />
Bahkan ojo dumeh dapat melipat gandakan kekuatan dan kelebihan kita sehingga<br />
kita lebih powerful. Mengapa demikian?<br />
<br />
Terdapat beberapa alasan mengapa ojo dumeh menjadikan kita lebih powerful.<br />
Yang pertama, ojo dumeh selalu mengingatkan kita agar kita tidak tergelincir<br />
kemudian jatuh dari posisi kita sekarang. Hal ini dikarenakan dengan selalu<br />
ingat pada adanya posisi yang berada dibawah kita, memberikan sinyal bahwa<br />
kalau tidak berhati-hati kita bisa terpeleset dan jatuh ke posisi tersebut.<br />
Jadi ojo dumeh menciptakan kehati-hatian. Dengan kita berhati-hati, maka<br />
pijakan kita menjadi lebih kuat. Kita tidak akan terpeleset, apa lagi jatuh.<br />
<br />
Yang ke dua, ojo dumeh akan menyenangkan orang lain. Orang lain senang<br />
karena kita tidak mentang-mentang, tidak merendahkan mereka. Saat kita<br />
menyenangkan orang lain, orang-orang tersebut akan senang berada di sekitar<br />
kita. Mereka tidak ingin kita jauh dari mereka. Apa lagi lepas dari mereka.<br />
Artinya, mereka akan menjaga kita untuk stay in our position. Tetap di<br />
posisi kita di sini bukan berarti kita tidak mereka inginkan untuk menapak<br />
ke posisi yang lebih tinggi. Mereka justru berharap agar kita lebih membuat<br />
mereka senang. Pada posisi yang seperti ini saja kita menyenangkan mereka,<br />
sehingga pada saat kita berhasil berada di posisi yang lebih tinggi mereka<br />
berharap bahwa kita akan lebih menyenangkan mereka.<br />
<br />
Yang ke tiga, ojo dumeh menunjukkan bahwa kita adalah orang yang bersyukur.<br />
Dengan tidak `mentang-mentang&#039; berarti kita memberi pernyataan pada diri<br />
sendiri bahwa posisi kita yang seperti ini cukup untuk kita dan wajib kita<br />
syukuri. Kalau kita diberi lebih dari yang sekarang ini tentunya kita akan<br />
lebih bersyukur lagi. Dengan demikian kita bisa menikmati apa yang sudah<br />
kita miliki dan yang sedang kita alami.<br />
<br />
Ke empat, ojo dumeh membuat kita hemat energi. Merendahkan orang lain,<br />
mengumpat orang lain, dan berfikir negatif tentang orang lain hanya akan<br />
menguras energi kita. Lebih baik kita menempatkan segala sesuatu pada<br />
porsinya saja. Setiap orang mendapatkan rejekinya sendiri-sendiri. Ada yang<br />
banyak, ada yang sedikit. Yang banyak bisa menjadi sedikit, dan yang sedikit<br />
bisa menjadi banyak. Jadi, yang punya kelebihan bersyukur saja tanpa harus<br />
mengecilkan orang lain. Berfikir positif seperti ini akan menghemat energi<br />
kita. Apalagi orang yang merasa kita hargai tersebut juga kemudian<br />
menghargai kita, hal tersebut justru akan me-recharge energi kita.<br />
<br />
Ke lima, ojo dumeh merupakan pengendalian diri. Yang dimaksud pengendalian<br />
diri disini adalah membawa diri kita kepada keadaan yang kita inginkan. Ojo<br />
dumeh akan selalu mengingatkan kita bahwa ternyata disekitar kita banyak<br />
sekali hal-hal yang berbeda dengan kita dimana perbedaan tersebut bukannya<br />
sesuatu yang kita inginkan. Saat kita diberi kelebihan dalam hal kekayaan<br />
misalnya, kita akan melihat bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang<br />
tidak seberuntung kita. Selama kita menyadari hal tersebut, dan kemudian<br />
tidak mengecilkan orang-orang yang kurang beruntung, maka kita justru akan<br />
diarahkan oleh keadaan untuk lebih baik dari keadaan kita sekarang dan<br />
terhindar dari keadaan yang tidak kita inginkan. Kalau kita mengecilkan<br />
orang lain, atau menghina, hal tersebut sama saja dengan kita menyamakan<br />
posisi kita seperti posisi mereka. Sama halnya kalau kita marah pada orang<br />
gila dan mengumpat orang gila, maka bukankah kita menjadi sama saja dengan<br />
orang gila tersebut? Sudah tahu dia gila kok kita marah kepada mereka?<br />
Demikian pula saat berhadapan dengan orang-orang yang tidak seberuntung<br />
kita. Kalau kita merendahkan mereka juga sama saja kita down grade, sama<br />
saja dengan mereka. Yang benar adalah saat kita lebih beruntung kita<br />
membantu dan mengangkat orang yang kurang beruntung tersebut ke posisi yang<br />
lebih baik. Kita boleh merendah, tetapi jangan merendahkan. Begitu kurang<br />
lebih yang terkandung dalam ojo dumeh.<br />
<br />
Yang ke enam, ojo dumeh menjadikan kita tidak &quot;over valued&quot; terhadap diri<br />
sendiri. Kalau kita mentang-mentang, dan keadaan membiarkan kita terbuai<br />
dengan ke&quot;mentang-mentang&quot;an kita, maka kita bisa lupa diri. Sebagai contoh,<br />
mentang-mentang kita pandai kemudian kita membodohi orang lain. Orang lain<br />
mungkin diam. Kita yang sedang membodohi rasanya tiba-tiba menjadi lebih<br />
pandai, melayang tinggi lebih pandai lagi. Itu perasaan yang menipu. Kita<br />
justru akan tertipu oleh &quot;mentang-mentang&quot; kita. Untuk itulah maka kalau<br />
kita memegang kearifan &quot;ojo dumeh&quot; kepalsuan perasaan tersebut dapat kita<br />
hindari. Hati-hati, kita bisa over valued terhadap diri sendiri, yang apa<br />
bila kita tidak kuat bertahan, hal tersebut justru akan berbalik menjadi<br />
menurunkan value kita.<br />
<br />
Mari kita bawa kearifan &quot;ojo dumeh&quot; ini ke tempat kerja kita. Bayangkan kita<br />
bekerja keras untuk menciptakan kinerja yang kita targetkan. Kemudian kita<br />
bisa menapak satu posisi ke posisi berikutnya yang lebih tinggi, yang<br />
akhirnya kita mencapai posisi puncak. Tetapi kita tetap rendah hati. Kita<br />
tetap menghargai pendapat orang lain walau yang posisinya lebih rendah dari<br />
kita. Kita tidak &quot;mentang-mentang&quot; mempunyai kekuasaan kemudian kita<br />
sewenang-wenang dengan kekuasaan kita. Kita tidak mentang-mentang<br />
berpenghasilan tinggi kemudian membelanjakan uang kita semau kita sampai<br />
lupa berderma. Kita tetap mendengarkan teman kerja kita seperti apapun<br />
posisi mereka. Kita tetap hemat dan semakin banyak berderma. Bagaimana<br />
dengan profil seperti itu? Kita ingin orang tersebut lengser? Tentunya<br />
tidak.<br />
<br />
Untuk itulah maka kearifan &quot;ojo dumeh&quot; banyak dipelajari, dan diparaktekkan<br />
orang di jaman modern seperti ini. Ojo dumeh mendorong kita untuk semakin<br />
memanusiakan manusia (dalam istilah jawa disebut nguwongake). Ojo dumeh<br />
tidak akan mengerdilkan diri sendiri, justru akan membuat kita menjadi besar<br />
karena berjiwa besar. Ojo dumeh.<br />
<br />
<br />
Oleh: Agung Praptapa*<br />
*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana<br />
Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan<br />
trainer profesional di bidang personal and organizational development.]]></description>
</item>
<item>
<title>Doa Tahu Diri Seorang ‘Mantan’ Atheis</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/172.xhtml</link>
<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 08:34:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/images_3.jpeg" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Komputer, dan sempat bekerja selama delapan tahun lebih di dunia IT, tentunya dulu aku lebih mengakrabi ‘benda mati’ dibandingkan manusia. Server, PC, Networking, dan kumpulan code-code bahasa pemrograman, menjejali pengalaman ku selama bertahun-tahun. Baru setelah sebuah sentuhan dari hobby motret yang kemudian menjadi salah satu profesi, manusialah yang kemudian menjadi objek utama yang harus selalu –mau tidak mau- mendominasi kepala dan hati.<br />
<br />
Sejauh ini pengalaman bertutur betapa objek manusia yang luar biasa unik ini, begitu kaya baik akan misteri maupun pencerahan. Sehingga sampailah aku pada sebuah kesimpulan, bahwa manusia adalah guru sekaligus murid bagi manusia lain.<br />
Tersebutlah seorang wanita yang bagiku demikian unik. Bukan karena ia adalah adalah client ku, tetapi lebih karena wanita itu adalah seorang atheis.<br />
<br />
“Saya atheis”, akunya ketika pertama kali bertemu, sembari menunggu reaksi dari ku. Merasa yang ditunggu tak kunjung muncul, wanita itupun berkata, “eergh…tak ber-TUHAN”.<br />
Ia menatapku penuh selidik. Aku tersenyum.<br />
“Terus kenapa ? Apakah itu masalah bagi orang yang terdaftar sebagai anggota dalam milis Atheis ?”, tanyaku.<br />
Kini ganti ia yang tersenyum.<br />
“Tapi saya tahu Anda bukan Atheis”, katanya kepadaku.<br />
“Ya memang saya bukanlah seorang Atheis. Pikiran dan hati saya tidak mampu menafikan keberadaan NYA”, aku menatapnya dalam-dalam,” Tetapi sebagaimana TUHAN memberikan kebebasan bagi siapapun untuk mengasihi atau membenci, mengakui ataupun mengabaikan Nya, sayapun akan melakukan hal yang sama kepada Anda atau siapapun itu berkaitan dengan sikap mereka terhadap TUHAN”.<br />
<br />
Itu pertemuan pertama kami. Dalam pertemuan selanjutnya tersingkaplah bahwa sebenarnya ia kini berstatus sebagai ‘mantan’ atheis. Rupanya baru saja ia mendapat pencerahan tentang keberadaan TUHAN.<br />
<br />
Sebagaimana dunia korporasi yang seringkali mempekerjakan para pimpinan diluar bidang / kompetensi perusahaan tersebut. Tujuannya ? mendapatkan wawasan yang fresh dan sudut pandang yang sama sekali lain. Begitu juga dengan mantan atheis ini. Berbicara tentang TUHAN dengan seorang ulama, pendeta atau pandita memang merupakan sumber yang benar untuk mengenal TUHAN lebih dalam. Namun ternyata berbicara tentang TUHAN dengan seorang mantan atheis, justru menjadi tak kalah lebih mencerahkan.<br />
<br />
“Kallo persoalan rejeki saya nggak neko-neko”, sambungnya,”sepengas ihan-NYA saja”<br />
(sepengasihan = seberapa dikasih oleh TUHAN)<br />
“Saya juga tak pernah meminta panjang umur”, katanya, “saya hanya meminta kesehatan. Saya tidak mau panjang umur, tapi ujung-ujungnya menyusahkan orang lain. Baik karena perbuatan yang merugikan ataupun karena menjadi beban bagi orang lain”<br />
<br />
Sederhana tapi menarik, sementara banyak dari kita yang berdoa membabi-buta demi panjang umur, hanya karena kita takut mati dan merasa selalu kurang dalam mereguk kenikmatan hidup ?<br />
<br />
Tanpa pernah sedikit berpikir tentang ‘apakah kita memang layak hidup’ atau ‘apakah hidup kita ini berguna untuk orang lain’ sehingga kita berhak meminta bonus panjang umur dari TUHAN.<br />
<br />
Kalau boleh jujur, jangankan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, jangan-jangan bagi orang-orang terdekat kita, suami, istri, anak, orang tua ataupun teman, kita lebih dari sekedar persoalan, bahkan sebuah musibah !<br />
<br />
Sementara identitas : menjadi rahmat bagi semesta alam -yang merupakan takdir kita- hanya sekedar slogan cantik, yang pada prakteknya ternyata sangat jauh panggang dari api. Kita mengambil, merampas, memperkosa apa saja dan siapa saja demi kepentingan diri kita sendiri. Hanya supaya kita menang, puas dan sukses, persetan dengan apakah itu ternyata merugikan orang lain (semesta alam).<br />
<br />
Jika itu benar, sepertinya kita harus lebih punya malu untuk berdoa, pada saat ingin berangkat tidur, bekerja atau doa-doa jenis apapun, terutama ketika kita berulang tahun. Supaya jangan pertambahan hari-hari kita tidak membawa rahmat bagi siapapun, namun justru membawa bencana bagi orang lain (semesta alam).<br />
<br />
Kalau seorang mantan atheis saja, cukup tahu diri untuk meminta pertambahan umur, seharusnya kita-kita yang mengaku dan merasa beragama sejak dari kandungan ini jauh lebih tahu diri dari mereka. Itupun jika keagamaan kita tidak hanya tersimpan dalam dompet pada selembar kertas keras berlapis laminating bernama KTP<br />
<br />
<div style="text-align:left">ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom</div>
<br />
<div style="text-align:left"><strong>*Salam Motivasi Very</strong></div>
]]></description>
</item>
<item>
<title>Mengapa Lari dari Cinta?</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/171.xhtml</link>
<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 08:19:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/cewek-menangis-thumb16.jpg" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Wanita itu menatap sang pria yang baru saja mengajaknya kenalan. Ia hampir saja mengucapkan namanya seperti yang diminta oleh si pria. Tapi kemudian dia melontarkan sebuah ide, “Bagaimana bila kita tak perlu tahu nama kita masing-masing?”<br />
<br />
“Mengapa?” Tanya pria itu keheranan<br />
<br />
“Karena aku ingin malam ini jadi malam yang indah. Coba lihat, kita ketemu di pesta pernikahan teman kita. Kita tidak saling kenal, tapi kita saling tertarik. Mungkin lebih baik malam ini kita berbicara santai, menikmati dinner bersama dan dansa bersama pada saat acara dansa dimulai, kemudian setelah selesai, kita pulang ke rumah masing-masing tetap tanpa tahu siapa diri kita masing-masing. Pulang ke rumah dengan perasaan bahagia….”<br />
<br />
Pria itu menatap heran pada si wanita, “Mengapa harus begitu?”<br />
<br />
“Agar kenangan indah ini berlangsung abadi! Coba bayangkan, saat kita tua nanti dengan rambut putih memenuhi kepala, dan beragam masalah kita hadapi, kita akan memiliki suatu kenangan indah untuk menghibur diri. Kenangan akan malam ini. Kenangan yang tak akan pernah rusak. Karena telah tersimpan abadi di masa lalu dengan tanpa cacat sedikitpun. Karena memang kita tak merusaknya dengan berantem satu sama lain, dengan perbedaan pendapat, dengan rasa cemburu, dengan kekecewaan….”<br />
<br />
Pria itu memandang takjub pada si wanita yang didapannya. Ide itu sungguh-sungguh terdengar gila. Karena sesungguhnya ia begitu ingin kenal lebih jauh. Tapi kemudian ia malah mengangguk perlahan. Dan malam itu, mereka berbicara, menyantap makan malam dan berdansa dengan indahnya. Menciptakan kenangan indahnya sendiri. Dan kemudian berpisah, tetap tanpa mengenal siapa nama asli satu sama lainnya…<br />
<br />
Akhirnya si pria keesokan harinya terus kepikiran wanita tersebut. Hidupnya menjadi gelisah. Ia pun kemudian memutuskan untuk mencari tahu siapa wanita itu. Ia tak lagi peduli apabila dengan pertemuan berikutnya, mungkin memang akan menimbulkan kekecewaan dan akhirnya merusak kenangan indah abadi yang sudah mereka simpan untuk masa tua kelak. Ia tak peduli, ia ingin lebih mengenal lagi pujaan hatinya tersebut. Ia siap kecewa karena cinta daripada tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasa. Rasa cinta yang kini begitu bergemuruh di dadanya. Ia tidak bisa lari dari cinta…<br />
<br />
<div style="text-align:left">(cuplikan film seri “When I met your mother – session 1” yang ditayangkan oleh Star World)</div>
<br />
<br />
<div style="text-align:left"><strong>*Salam Motivasi Very</strong></div>
]]></description>
</item>
<item>
<title>Hal Yang Penting Dalam Hidup...</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/170.xhtml</link>
<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 07:39:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/self-discipline.jpg" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Tak banyak orang yang peduli,bahkan sadar dengan hal penting dalam hidup.Terutama yang telah merasa sukses dan tak perlu ngapa-ngapain lagi.<br />
<br />
apasih sebenarnya hal essensial yang penting dalam hidup?<br />
terserah apa jawaban anda.Tapi,menurut saya bidang apapun itu,hal terpenting dalam hidup adalah MEMPELAJARI KESALAHAN.<br />
<br />
Memang.merayakan keberhasilan adalah hal penting.Tapi,MEMPELAJARI KESALAHAN/KEGAGALAN adalah lebih penting.mengingat,bahwa kehidupan ini bukanlah keadaan yang konstan dan mudah diperkirakan.<br />
Dan jika berhubungan dengan tujuan anda,apakah tujuan anda sama(standarnya)dari waktu ke waktu,tahun ke tahun?<br />
nggak,kan?<br />
<br />
lalu mengapa mengapa yang ditekankan adalah mempelajari kesalahan/atau kegagalan?<br />
<br />
karena mempelajari kegagalan memberi manfaat yang jauh lebih besar untuk dipelajari,dari pada keberhasilan.<br />
pada kenyataannya keberhasilan lebih sering melenakan.terutama karena organisasi/orang tidak merayakannya secara edukatif.mereka dengan bangga gembar-gembor sana-sini,memamerkan pencapaian ini-itu. apa yang kita peroleh dari merayakan seperti itu?]]></description>
</item>
<item>
<title>Sikap</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/169.xhtml</link>
<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 07:30:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/sikap.gif" /></div>
<br />
<br />
<strong>MotivasiHidup.Tk -</strong> Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar<br />
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan<br />
<br />
Sikap lebih penting daripada ilmu,<br />
daripada uang, daripada kesempatan,<br />
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,<br />
daripada apapun yang mungkin dikatakan<br />
atau dilakukan seseorang.<br />
<br />
Sikap lebih penting<br />
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.<br />
Hal yang paling menakjubkan adalah<br />
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan<br />
sikap yang kita miliki pada hari itu.<br />
<br />
Kita tidak dapat mengubah masa lalu<br />
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang<br />
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi<br />
<br />
Satu hal yang dapat kita ubah<br />
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,<br />
dan itu adalah sikap kita.<br />
<br />
Saya semakin yakin bahwa hidup adalah<br />
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,<br />
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.]]></description>
</item>
<item>
<title>Hidup Itu di hati</title>
<link>http://kaito-kit.mywapblog.com/post/168.xhtml</link>
<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 08:38:00 +0000</pubDate>
<description><![CDATA[<div style="text-align:center"><img src="http://kaito-kit.mywapblog.com/files/hearth.jpg" /></div>
<br />
<br />
<strong>Motivasihidup.Tk -</strong> Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah<br />
sebuah perjalanan panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya,<br />
kesejahteraannya, kebahagiannya, &amp; Tuhannya. Berbagai<br />
makhluk menghalanginya, terkadang, atau sering kali, dirinya sendirilah yang<br />
merintanginya.<br />
<br />
Hati adalah pusat kehendak yang membuat manusia tertawa dan menangis, sedih<br />
dan gembira, suka ria atau berputus asa. Manusia mengembara dihatinya:<br />
pikiran membantunya, maka pikiran harus bekerja sekeras-kerasnya, pikiran<br />
bisa perlu ber-revolusi, pikiran tak boleh tidur, pikiran harus dipacu lebih<br />
cepat dari waktu cahaya.<br />
<br />
Hati tidak selalu mengerti persis apa yang dikehendakinya. Ia hanya bisa<br />
berkiblat ke Tuhannya untuk memperoleh kejernihan dan ketepatan kemauannya.<br />
<br />
Pikiran ikut menolongnya mendapatkan kejernihan dan ketetapan itu, tapi<br />
pikiran tidak bisa menerangkan apa-apa tentang Tuhannya. Pikiran mengabdi<br />
kepada hatinya, hati selalu bertanya kepada Tuhannya. Di<br />
hadapan Tuhan, pikiran adalah kegelapan dan kebodohan. Jika pikiran ingin<br />
mencapai Tuhannya, ia menyesuaikan diri dengan hukum dimensi hatinya. Jika<br />
tidak, pikiran akan menawarkan kerusakan, keterjebakan dan bumerang.<br />
<br />
Jika pikiran hanya mampu mempersembahkan benda-benda kepada hatinya, maka<br />
hati akan tercampak ke ruang hampa, dan pikiran sendiri memperlebar jarak<br />
dari Tuhannya.<br />
<br />
Badan akan lebur ke tanah. Pikiran akan lebur diruang dan waktu. Hati akan<br />
lebur di Tuhan. Jika derajat hati diturunkan ke tanah, jika tingkat pikiran<br />
bersibuk dengan bongkahan logam, maka dalam keniscayaan lebur ke Tuhan,<br />
mereka akan hanya siap menjadi onggokan kayu, yang terbakar tidak oleh cinta<br />
kasih Tuhan, melainkan oleh api.<br />
<br />
Jika hati hanya berpedoman kepada badan, maka ia hanya akan ketakutan oleh<br />
batas usia, oleh mati, oleh kemelaratan, oleh ketidakpunyaan. Jika pikiran<br />
hanya mengurusi badan, jika pikiran tak kenal ujung maka ia akan rakus<br />
kepada alam, akan membusung dengan keangkuhan, kemudian kaget dan kecewa<br />
oleh segala yang dihasilkan.]]></description>
</item>
</channel>
</rss>